banner 728x250

Refleksi HPN 2026: Mengembalikan Marwah Pers di Tengah Krisis Profesionalisme

Ketua Media Center Sampang (MCS), Fathor Rahman, S.Sos Menilai, Posisi wartawan kini terkesan hanya menjadi pelengkap yang kerap diabaikan, bahkan dipandang sebelah mata oleh berbagai pihak.
banner 120x600
banner 468x60

Mediacentersampang.com, – SAMPANG – Hari Pers Nasional (HPN) merupakan momentum sakral dalam perjalanan demokrasi Indonesia. Lebih dari sekadar seremoni tahunan, peringatan ini seharusnya menjadi ruang refleksi terhadap peran strategis media sebagai pilar keempat demokrasi dalam menjaga keterbukaan informasi dan mengawal kontrol sosial secara objektif.

Namun, di tengah hiruk-pikuk digitalisasi yang masif, pers nasional kini berada di persimpangan jalan. Tantangan yang dihadapi bukan lagi sekadar disrupsi teknologi atau serangan hoaks, melainkan krisis identitas dan degradasi moral profesi yang kian mengkhawatirkan.

banner 325x300

Khususnya di Wilayah Kabupaten Sampang, Fathor Rahman yang akrab disama Mamang selaku Penasehat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Sampang sekaligus Ketua Media Center Sampang (MCS), mengatakan, hampir Mayoritas Pers atau Wartawan di Kabupaten Sampang terkesan kehilangan identitas dan terdegradasi moral profesi. Dimana tidak sedikit kesan Pers atau Wartawan yang ada telah jauh menyimpang dari tugas pokok dan fungsinya, yaitu diantaranya kontrol sosial.

“Kesan yang saya cermati, dari pengalaman menjadi Wartawan sejak Februari 2008 atau 18 tahun terakhir saat ini, ada hal tupoksi yang sudah terdegradasi moral profesi, yaitu bukannya mengontrol lebih baik, melainkan banyak oknum pers yang terlibat permasalahan.

Mamang menambahkan, Marwah profesi pers belakangan ini dinilai kian tergerus oleh fenomena rendahnya standar kompetensi di lapangan. Munculnya persepsi bahwa profesi wartawan seolah menjadi “pelarian” pekerjaan, dimana terkesan hanya dengan modal mental berani bicara dan penampilan menarik, telah menjadi tamparan keras bagi ekosistem media.

Tanpa bekal wawasan yang memadai dan pemahaman mendalam terhadap Kode Etik Jurnalistik (KEJ), fungsi pers kerap kali melenceng dari tugas pokok dan fungsinya (tupoksi).

Dinilai situasi saat ini, hal tersebut dampaknya nyata, banyak pers sering kali hanya ditempatkan sebagai instrumen pelengkap atau “pemadam kebakaran” yang hanya dihargai saat dibutuhkan oleh pihak-pihak tertentu, lalu dikesampingkan saat kepentingan tersebut usai.

Bahkan dengan lantang, Mamang mengatakan hal ini di forum resmi rapat koordinasi persiapan menyambut bulan suci Ramadhan dan hari raya idul Fitri 1447/2026 M di Aula Pemkab Sampang, Rabu (11/02/2026) siang.

“Jangan sampai Pers hanya dihargai saat dibutuhkan saja, seperti halnya Pemadam kebakaran” cetus Mamang.

Realitas di lapangan menunjukkan adanya kecenderungan di mana pers rentan dikooptasi oleh kepentingan sektoral. Hal ini memicu hilangnya taji pers sebagai pengawas kekuasaan. Profesionalitas yang rendah berbanding lurus dengan rendahnya posisi tawar jurnalis di hadapan narasumber maupun instansi publik.

Menyikapi hal tersebut, Mamang berharap besar di Momentum HPN 2026 harus menjadi titik balik bagi seluruh insan pers untuk melakukan pembenahan internal secara total. Peningkatan kapasitas melalui uji kompetensi, penguatan literasi, dan ketaatan mutlak pada etika profesi adalah harga mati yang tidak bisa ditawar.

Selain itu, Mamang menambahkan Idealisme adalah ruh dari jurnalisme. Tanpa itu, berita hanya akan menjadi rangkaian kata tanpa makna, atau lebih buruk lagi, menjadi alat propaganda. Melalui HPN 2026, insan pers diharapkan mampu kembali ke khittahnya: menjadi mata dan telinga publik yang jujur, berani, dan berintegritas.

“Hanya dengan profesionalisme yang mumpuni, pers akan kembali dihormati bukan karena ditakuti atau dibutuhkan secara transaksional, melainkan karena perannya yang krusial dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan menjaga tegaknya keadilan”Pungkas Mamang.(F-R)

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *